Dunia Menurut Saya..

informasi dari penjuru dunia dalam otak mahasiswa es dua

Problematik “Racing Liar” di Kota-kota Besar

Dektri Menurut Saya - Racing LiarMendengar kata “racing liar” ini saja sudah membuat perut saya back to ABG, ga stabil. Dan sekarang saya memberanikan diri untuk membahasnya. Oke, brb minum Antimo biar ga mabok nge-blog.

Mendengar kata “racing”, apa yang ada di benak saya? Laki. Benar, racing itu laki. Butuh keberanian berlapis-lapis untuk menggeluti olahraga ini. Banyak yang dipertaruhkan, uang, harga diri, bahkan nyawa itu sendiri. Namun, apa yang terjadi apabila kata “racing” tadi ditambah dengan kata “liar”? Laki yang tadi tiba-tiba berubah melambai. Susanto pun kini telah berubah menjadi Susanti. Ya, racing liar itu banci. Kenapa banci? Karena kalo Anda laki, ber-racing lah di jalur balap resmi, bukan di jalur umum.

Akhir-akhir ini saya banyak mendapati kegiatan racing liar ini di jalur besar ibukota. Akan ada banyak urbanisasi yang terjadi bila kegiatan ini dilaksanakan. Orang kampung berbondong-bondong menuju kota. Sedangkan orang kota ber-kamuflase menjadi orang kampung. Dan 3.. 2.. 1.. Bunyi knalpot sok moge berbunyi, menandakan para racer mulai tancap gas, sekaligus menandakan bahwa laki kini berubah banci. Ruko-ruko di pinggir jalan diibaratkan penonton, dan pernah suatu hari, saya dianggap Valentino Rossi. Diserempet dengan kecepatan di atas rata-rata, menantang agar saya segera tancap gas. “Supra Fit 110 cc standar? Apa ga salah menantang sepeda motor ini?”, saya berpikir keras, sambil mencari-cari apa ada sesuatu yang membuat orang itu mengganggap saya seorang Valentino Rossi. “Oh, mungkin karena hari ulang tahun kita sama”.

Para racer biasanya mencari jalur lebar-lurus minimal 1 km untuk dapa melaksanakan kegiatan ini. Kemudian diawali dengan berbondong-bondongnya massa di pinggiran jalan, dengan dandanan trendy kira-kira 3 tahun yang lalu, dan setengah jam berikutnya, sepeda motor bebek kacangan pun bermunculan. Inilah sang idola salah pergaulan!

Racing liar ini cuma demi kepentingan pamer semata, tanpa menghiraukan bahaya untuk orang lain dan diri sendiri juga. Emosi telah mengalahkan nalar, menghasilkan sebuah tindakan kampungan. Teman saya asal Medan pernah meninggalkan alam nyata hanya karena ga sengaja melewati sebuah jalur umum yang ternyata dialihfungsikan menjadi sirkuit balap, dan BUM, dia pun pergi untuk selamanya. Sekiranya kita semua dapat berpikir, pantaskah nyawanya ditukarkan hanya untuk kesenangan sementara? Menurut saya, harga yang terlalu mahal untuk hobi kita.

 

(Dunia Menurut Saya – dektriwriteson.wordpress.com)

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: